Sosok Unik KH Mustafid Munawwir: Kiai Karismatik Pendiri Pesantren Darussalamah Krian yang Hidupnya Penuh Kemulyaan

oleh -1812 Dilihat
banner 468x60

DSKRIAN.COM – Di antara jejak para ulama besar yang menghiasi bumi Sidoarjo, nama KH Mustafid Munawwir menjadi salah satu figur yang sangat membekas dalam hati masyarakat. Beliau bukan hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga karena kepribadian yang kharismatik, sederhana, dan unik. Lahir di Jombang pada 1 Januari 1949 dari pasangan KH. Munawwir Sholih Husain dan Bu Nyai Hj. Munawwaroh, sejak muda beliau sudah menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap ilmu dan dakwah Islam.

KH Mustafid Munawwir adalah pendiri Pondok Pesantren Darussalamah Krian—sebuah lembaga pendidikan Islam yang kini berkembang pesat dan menjadi rujukan masyarakat untuk pendidikan agama berbasis kitab kuning dan thoriqoh Ahlussunnah wal Jamaah. Hidupnya beliau dedikasikan sepenuhnya untuk menyebarkan ilmu, membina umat, dan mendoakan masyarakat dengan penuh keikhlasan.

banner 336x280

Mewarisi Karakter Mbah Ud Pagerwojo

Sejak kecil, KH Mustafid diasuh oleh pamannya, KH Ali Mas’ud—ulama sepuh yang lebih dikenal sebagai Mbah Ud Pagerwojo. Dalam asuhan beliau, karakter Gus Tafid mulai terbentuk: penuh ketawadhuan, istiqamah dalam ibadah, dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Sifat khoriqul ‘adah (di luar kebiasaan) yang diwarisi dari Mbah Ud menjadikan Gus Tafid sosok yang menarik perhatian banyak orang.

Tak heran jika sejak muda, banyak orang datang kepadanya membawa berbagai persoalan—dari kesulitan ekonomi hingga gangguan batin. Meski beliau selalu merendah dengan berkata, “Saya ini tidak punya kemampuan apa-apa,” tamu-tamu tetap bersikeras meminta doa. Dalam pandangan beliau, doa hanyalah wasilah, dan semua hasil tetap berada dalam kuasa Allah SWT.

Merintis dari Nol: Pondok Pesantren Darussalamah Krian

Darussalamah Krian lahir dari semangat dakwah yang membara, bukan dari modal besar. Awalnya, kegiatan ngaji dimulai di rumah kecil di Katerungan pada awal 1980-an, kemudian berpindah ke Jeruk Gamping. Di rumah inilah KH Mustafid tinggal bersama istrinya, Ibu Nyai Hj. Machsunah, dan kelima anak mereka.

Meski rumah sempit, tak pernah ada keluhan. Justru dari ruang tamu yang sederhana itu, kegiatan ngaji, wirid, dan konsultasi keagamaan terus hidup. Beberapa santri awal bahkan tinggal bersama beliau. Lingkungan itu penuh dengan keberkahan, menjelma menjadi cikal bakal pondok yang kini menaungi ratusan santri dan terus berkembang pesat.

Menjadi Muqoddam Thoriqoh Tijaniyyah

KH Mustafid mendapat ijazah Thoriqoh at-Tijaniyyah dari Syaikhina KH Muhammad bin Yusuf pada tahun 1975. Sejak saat itu, beliau dikenal sebagai muqoddam Thoriqoh Tijaniyyah wilayah Sidoarjo. Beliau membina para santri dan jamaah untuk istiqamah dalam wirid, zikir, dan menjaga hubungan ruhani dengan guru.

Bagi beliau, wirid bukan sekadar amalan lisan, tapi sarana untuk menyambung rohani kepada para masyayikh dan sebagai penyejuk hati di tengah kesibukan dunia. Lewat bimbingannya, ratusan jamaah mengenal makna dzikir yang lebih dalam dan menemukan kedamaian dalam menjalani kehidupan.

Kesederhanaan dan Keikhlasan Tanpa Pamrih

Walau pesantren terus membesar, rumah beliau tetaplah sederhana. Dindingnya tidak pernah diganti, lantainya tetap biasa, tapi penuh berkah. Setiap malam, tamu-tamu berdatangan dengan berbagai hajat. Semua disambut dengan senyum lembut, tanpa keluh, tanpa pamrih.

KH Mustafid dikenal sebagai kiai yang tidak mengejar popularitas, tidak mencari pujian, tapi benar-benar hadir untuk umat. Ia ngemong, mendengarkan, membimbing, dan mendoakan. Ketulusannya begitu terasa, membuat siapapun yang sowan merasa dekat dan nyaman.

Wafatnya Sang Kiai, Tapi Warisannya Hidup

KH Mustafid Munawwir wafat pada 14 November 2022, meninggalkan duka mendalam di hati ribuan santri, alumni, dan masyarakat. Tapi warisan beliau tidak ikut terkubur. Justru terus hidup dalam bentuk pesantren yang berkembang, kegiatan dakwah yang tak pernah padam, dan semangat wirid yang tetap berkumandang setiap hari.

Sebagaimana ungkapan “Matinya seorang alim adalah terbenamnya sebuah dunia,” KH Mustafid memang telah pergi, tapi dunia yang beliau tanamkan tetap hidup. Cinta pada ilmu, hormat kepada ulama, semangat menghidupkan kitab kuning, dan tradisi thoriqoh—semuanya menjadi napas Pondok Pesantren Darussalamah Krian hari ini.

 

 

banner 336x280