Pesantren Darussalamah Krian merupakan salah satu pesantren terkemuka di Sidoarjo yang berdiri atas inspirasi kuat dari perjalanan keilmuan KH. Imam Faqih Asy’ari. Beliau adalah tokoh besar pendiri Pondok Sumbersari, Kencong, Kediri, yang telah melahirkan banyak ulama dan pejuang dakwah, termasuk KH. Mustafid Munawwir—pendiri Pesantren Darussalamah Krian.
Keterkaitan keduanya tidak hanya dalam sanad keilmuan, tetapi juga dalam tradisi dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan. KH. Mustafid bahkan dikenal sebagai sesepuh alumni Sumbersari di Sidoarjo, yang kerap mendorong santri-santri untuk melanjutkan pendidikan di sana, sebagai bentuk cinta pada sanad keilmuan pesantren.
Biografi Singkat Mbah Yai Faqih
Di sebuah dusun yang tenang di Tertek, Pare, Kediri, pada tanggal 26 April 1918, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi panutan umat, guru dari para kiai besar, dan peletak pondasi keilmuan Islam yang kokoh—dialah Romo KH. Imam Faqih Asy’ari. Terlahir dari pasangan H. Asy’ari dan Nyai Hj. Halimah (Murrah), beliau tumbuh di tengah suasana keluarga yang sangat religius, penuh kesederhanaan dan tirakat orang tuanya.
Tidak hanya menjalankan ibadah wajib, kedua orang tua beliau dikenal rutin menunaikan puasa-puasa sunah dan menjaga hubungan spiritual yang erat dengan para ulama.
Kecintaan orang tua beliau kepada para ulama bukan sekadar retorika. Setiap Kamis atau Sabtu, mereka dengan penuh semangat menempuh perjalanan jauh menuju pengajian di Pondok Jampes, Kediri, asuhan KH. Dahlan.
Perjalanan yang tidak mudah itu mereka lalui dengan naik andong, membawa bingkisan untuk menunjukkan rasa hormat kepada guru. Namun, karena jaraknya cukup jauh, KH. Dahlan kemudian mengarahkan mereka untuk mengikuti pengajian di Pondok Bendo, Pare, yang lebih dekat. Keteladanan ini menjadi benih pertama yang tumbuh subur dalam hati kecil Imam Faqih kecil: rasa hormat kepada ilmu dan para pembawanya.
Awal Pendidikan dan Lingkungan yang Mendidik
KH. Imam Faqih Asy’ari kecil mendapat pendidikan langsung dari kedua orang tuanya. Ia tak hanya belajar membaca al-Qur’an dan al-Barzanji, tetapi juga mengaji kepada Kyai Danuri di Semanding, Tertek. Sebagai anak keempat dari enam bersaudara, beliau tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan dorongan untuk belajar. Saudara-saudaranya pun dikenal alim dan berbakti, seperti KH. Masyhadi yang menjadi kiai di Jombang dan Hj. Fatimah yang setia mendampingi beliau sejak kecil.
Pada usia tujuh tahun, tahun 1925 M, Imam Faqih memulai perjalanan ilmiahnya dengan mondok di Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan langsung Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Saat itu, ia ditemani sang kakak Nyai Hj. Fatimah yang masih berusia sepuluh tahun. Mereka tinggal di Ndalem Kiai Alwi, adik KH. Hasyim. Di masa kecil itu, Imam Faqih masih menggantungkan banyak hal kepada kakaknya, tetapi semangat belajarnya sangat tinggi.
Meniti Ilmu di Tebuireng dan Lirboyo
Di Pesantren Tebuireng, Imam Faqih melewati sistem pendidikan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah yang ketat dan mendalam. Ia belajar dari tingkat dasar (Shifir Awal dan Tsani) hingga kelas lima ibtidaiyyah. Kitab-kitab yang dia pelajari adalah karya besar seperti Tahrir, Fathul Wahab, Jauharul Maknun, dan tentu saja Alfiyah Ibnu Malik. Di sela-sela jadwal belajar formal, beliau juga rutin mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Mahfudz Anwar, pengasuh Pondok Seblak.
Setelah enam tahun di Tebuireng, beliau ingin melanjutkan ke Pondok Termas, Pacitan. Namun sang ayah mengarahkan untuk ke Lirboyo saja. Tahun 1931, Imam Faqih resmi menjadi santri Lirboyo. Di sana, beliau tak hanya belajar, tetapi langsung diminta oleh KH. Abdullah Jauhari untuk mengajar anak-anak menulis. Amanah ini dijalani dengan sungguh-sungguh, bahkan sebelum mengajar, beliau pulang ke Tertek untuk sowan dan meminta restu orang tua. Ayahnya hanya berpesan satu hal:
“Lakonono, tapi kowe ojo nyekel duwit.”
(Jalankan, tapi jangan kau terima uang.)
Dari pengabdian sederhana inilah lahir cikal bakal Madrasah Hidayatul Mubtadi’in di Lirboyo, yang hingga kini masih berdiri.
Menetap di Sumbersari: Cikal Bakal Darussalam
Tahun 1947 menjadi tahun bersejarah. KH. Imam Faqih Asy’ari memilih untuk hijrah ke dusun sunyi bernama Sumbersari, Kencong, Kediri. Saat itu, wilayah tersebut hanya dihuni dua keluarga. Dengan restu dan doa dari para ulama seperti KH. Khozin dari Bendo, beliau membangun sebuah rumah bambu kecil di selatan Masjid Baiturrahman.
Tanggal 13 Maret 1948 M, dengan bermodal dua belas santri, KH. Imam Faqih mendirikan Pondok Pesantren. Tak ada dinding, tak ada kemewahan. Kelas-kelas awal dibuka dengan sistem klasikal dan dibantu oleh santri senior. Lambat laun, masyarakat mulai mengenal beliau. Para santri berdatangan, dan pondok tumbuh perlahan menjadi lembaga ilmu yang kokoh. Mereka belajar, mengajar, dan bahkan membangun sarana pendidikan dengan tangan mereka sendiri.
Keteladanan, Keistiqamahan, dan Karya
KH. Imam Faqih Asy’ari dikenal sangat istiqamah. Setiap hari beliau bangun malam untuk sholat, membaca Dalailul Khairat, dan berdzikir. Ajaran ini adalah warisan dari gurunya KH. Abdul Manaf Lirboyo. Beliau juga rutin mengadakan manaqiban, mengundang ulama-ulama sholih untuk menguatkan spiritualitas pondok.
Tak hanya menjadi pendidik, beliau juga seorang penulis produktif. Kitab-kitab seperti Ad-Durroh As-Saniyah, Saulamul Munawroq, Uqudul Juman, dan Jauharul Maknun menjadi kurikulum di Pondok Darussalam dan digunakan hingga kini.
Purnanya Sang Pelita
Menjelang akhir hayatnya, sekitar tahun 1988 M, kesehatan KH. Imam Faqih mulai menurun. Namun semangatnya tak pernah pudar. Meski tak lagi aktif mengajar, beliau tetap memantau perkembangan pondok. Hingga akhirnya, di penghujung malam Ahad Kliwon, 28 Juni 1992 M, beliau menghadap Allah SWT dengan tenang. Kepergiannya meninggalkan duka, tetapi juga warisan besar berupa pesantren, ilmu, dan ribuan santri yang tersebar ke berbagai penjuru negeri.
Wasiat Wada’ Sang Guru
Sebelum wafat, beliau meninggalkan wasiat yang menjadi cahaya penuntun bagi para santrinya:
“Ngger aku mekas marang kowe kabeh:
Kowe kudu Taqwalloh.
Kowe kudu Nasyrul ‘Ilmi Waddin.
Kowe kudu Istiqomah olehe Jamaah.
Kowe kudu manut tindake Ulama’ Salaf.
Kowe kudu bagusi guru lan wong tuwo loro.”
Wasiat yang bukan hanya nasihat, tapi amanah yang terus hidup dalam setiap langkah dan doa para santrinya, termasuk murid beliau yang masyhur, KH. Mustafid Munawwir—pendiri Pondok Pesantren Darussalamah Krian. Dari tangan dan keteladanan KH. Imam Faqih Asy’ari, lahir generasi pejuang ilmu dan agama yang kini meneruskan nyala obor dakwah dan pendidikan.
Inspirator Balik Lahirnya Pesantren Darussalamah Krian
Sebagai penerus sanad keilmuan dan spiritual KH. Imam Faqih Asy’ari, KH. Mustafid Munawwir, pengasuh Pesantren Darussalamah Krian, dikenal tak hanya kharismanya, tetapi juga sebagai sosok yang aktif menjaga hubungan erat dengan pesantren asalnya, Sumbersari.
Beliau sering mendorong bahkan mengantar langsung santri-santri yang hendak melanjutkan pendidikan ke Sumbersari, Kencong. KH. Mustafid memang dianggap sebagai sesepuh alumni Sumbersari di kawasan Sidoarjo. Beberapa pengasuh dan ustadz Pesantren Darussalamah Krian juga tercatat pernah mondok di Sumbersari, seperti Ustadz H. Abdul Kholiq, Ustadz Sahidin, Ustadz Khoirul (Pak Tad), dan Agus H. Ali Kharazim.
Sumber : Situs PP Darussalam Sumbersari








