Di tengah hamparan sawah dan kesunyian malam Desa Katerungan, Krian, sebuah kisah besar dimulai dari langkah seorang pemuda sederhana. Namanya Mustafid Munawwir—santri muda jebolan Pesantren Darussalam Sumbersari, Kediri—yang kelak dikenal sebagai KH. Mustafid Munawwir atau akrab disapa Gus Tafid.
Pada awal 1980-an, selepas mengaji dan menuntut ilmu, Gus Tafid menumpang kereta menuju Surabaya. Namun takdir menuliskan jalur berbeda. Saat kereta singgah di Stasiun Krian, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur’an dari seorang warga, namun dengan tajwid yang kurang tepat. Hatinya terusik, bukan oleh kesalahan itu, tetapi oleh dorongan kuat untuk mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari.
Dengan penuh kelembutan, ia mendekati orang tersebut dan menawarkan diri untuk membimbingnya. Tanpa megahnya podium atau mimbar, Gus Tafid memulai dakwahnya dari mushola kecil yang nyaris tak dikenal, namun menjadi saksi bisu lahirnya ratusan bahkan ribuan santri di masa depan.
Lambat laun, kabar tentang pemuda bersorban itu menyebar. Satu demi satu, warga mulai berdatangan, tak hanya dari sekitar Krian, tetapi juga dari pelosok Gresik dan Sidoarjo. Mushola itu pun tak lagi cukup. Melihat kesungguhan Gus Tafid, seorang dermawan menghibahkan rumah untuk dijadikan tempat tinggal dan pusat pengajian. Dari sinilah titik awal Pondok Pesantren Darussalamah dibangun—bukan dengan batu bata semata, tetapi dengan keikhlasan dan semangat dakwah yang tulus.
Dakwah yang Menyentuh Hati
Yang membuat dakwah Gus Tafid begitu diterima luas bukan sekadar ilmunya, tapi pendekatan hatinya. Ia tidak hanya berdakwah kepada kaum santri, tetapi juga kepada mereka yang selama ini jauh dari masjid. Salah satu kisah yang melegenda adalah saat ia menjumpai sekelompok pemuda yang tengah mabuk. Alih-alih memarahi, Gus Tafid bergabung—bukan dalam maksiat, tapi dalam misi dakwah yang tak biasa.
Ia bahkan menerima tantangan minum—dan setelah beberapa gelas, para pemuda itu tercengang. Gus Tafid tetap sadar, bahkan semakin tenang. Mereka takjub, hingga pada akhirnya bersedia meninggalkan kebiasaan lama dan berbalik arah: belajar mengaji, menyambung silaturahmi, dan memperbaiki hidup.
Menjadi Pesantren yang Menembus Zaman
Tak hanya berhenti pada majelis taklim dan pengajian malam, Gus Tafid melihat masa depan umat Islam membutuhkan generasi yang tak hanya fasih mengaji, tapi juga tangguh dalam pendidikan formal. Maka, pada tahun 1993, berdirilah bangunan sekolah dan asrama pertama.
Inilah cikal bakal sistem pendidikan terpadu di Pondok Pesantren Darussalamah Krian, yang hari ini menaungi berbagai jenjang:
- Madrasah Diniyah
- Tahfizhul Qur’an
- SD Darussalamah
- SMP Darussalamah
- SMA Darussalamah
Semua unit pendidikan menggabungkan kurikulum nasional dan pengajaran salafiyah berbasis kitab kuning, dengan tetap menjunjung pemahaman Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kini, setelah lebih dari 40 tahun, Pondok Pesantren Darussalamah Krian bukan sekadar tempat belajar. Ia telah menjadi rumah bagi ratusan santri yang datang dari berbagai daerah, mencari cahaya ilmu dan tuntunan akhlak. Warisan Gus Tafid bukan hanya bangunan atau lembaga, tapi jiwa pesantren yang hidup—penuh kasih, ilmu, dan harapan.
“Satu mushola kecil bisa melahirkan lautan ilmu, jika dijalankan dengan keikhlasan dan cinta. Inilah Darussalamah, jejak cinta seorang guru untuk umat.”


