Ilmu Itu Berat, Bro. Tapi Harta Lebih Menyiksa: Petuah KH. Mustafid Munawwir untuk Para Santri

oleh -1303 Dilihat
banner 468x60

“Mencari ilmu 15 tahun terasa lama dan menyiksa. Tapi mencari harta 30–50 tahun tidak terasa lama, padahal hasilnya belum tentu juga.”

DSKRIAN.COM – Kalimat ini disampaikan oleh KH. Mustafid Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Darussalamah Krian. Nasihat yang tidak hanya menyentil, tapi juga menusuk nalar kita yang kadang terlalu duniawi dalam memandang waktu dan hasil. Kita sering tak sabar saat menuntut ilmu, tapi enteng saja mengejar harta seumur hidup, meski belum tentu berkah.

banner 336x280

Kalau kita bertanya, “Kenapa menuntut ilmu di pesantren butuh waktu lama?”, jawabannya bukan karena santrinya lelet atau karena kurikulumnya kuno. Tapi karena yang sedang dikejar adalah warisan para nabi. Ilmu itu bukan sekadar data, tapi cahaya. Dan cahaya tidak akan mudah masuk ke hati yang tergesa-gesa.

Di pesantren, terutama yang mengkaji kitab kuning, proses belajarnya bisa belasan tahun. Kitab-kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat harus dibaca, dimaknai, dan dipahami secara mendalam. Metodenya bukan PPT atau video tutorial, tapi bandongan, sorogan, lalaran, sampai tulisan pegon. Santri tidak hanya dituntut untuk paham isi kitab, tapi juga diajak hidup dengan nilai-nilainya.

Tidak semua orang kuat melalui jalan ini. Butuh niat yang tulus, kesabaran ekstra, dan adab yang konsisten. Karena di pesantren, ilmu tidak hanya ditransfer, tapi ditanamkan. Dari guru ke murid, dari hati ke hati.

KH. Mustafid pernah menyindir keras, bahwa mencari ilmu 15 tahun terasa menyiksa bagi banyak orang. Tapi mengejar harta puluhan tahun? Aman-aman saja. Padahal kalau dihitung, harta bisa hilang dalam semalam. Tapi ilmu? Ia menetap dalam jiwa, bahkan ketika tubuh sudah tak bernyawa.

Tentu saja hidup di pesantren bukan perkara mudah. Santri harus tahan jauh dari keluarga, makan sederhana, aktivitas padat, hingga dituntut untuk hidup dalam ritme yang tidak semua orang kuat jalani. Tapi justru dari situ, jiwa mereka ditempa. Keikhlasan, kesederhanaan, dan ketangguhan mental itu tidak dibentuk di hotel bintang lima, tapi di ranjang kayu dan dapur yang penuh kesabaran.

Lalu bagaimana caranya agar santri tetap kerasan dan kuat mondok?

Pertama, luruskan niat. Jangan mondok karena ikut-ikutan, atau karena “biar nggak main HP terus di rumah.” Mondoklah karena ingin dekat dengan Allah, karena ingin jadi manusia yang bermanfaat.

Kedua, cintai guru. Karena keberkahan ilmu datang dari keikhlasan hubungan antara santri dan kiai. Ketiga, temukan sahabat seperjuangan. Di pesantren, teman bukan sekadar teman sekamar, tapi partner dalam jihad ilmu. Keempat, nikmati prosesnya. Mondok bukan fast food, tapi slow cook spiritual. Dan terakhir, jangan lupakan kekuatan doa orang tua. Sambangan sebulan sekali kadang lebih kuat dari 10 jam motivasi di YouTube.

Pendidikan di pesantren, terutama yang berbasis kitab kuning, memang terasa panjang dan berat. Tapi ingat dawuh KH. Mustafid Munawwir, maknanya kurang lebih: ilmu adalah harta yang sesungguhnya.

Ilmu yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi pohon keberkahan di masa depan. Ia akan menjaga kita bahkan ketika harta sudah habis dan kekuasaan sudah sirna. Ilmu memberi arah hidup dan membentuk pribadi yang dibutuhkan umat.

Jadi, kalau kamu atau anakmu sedang mondok, jangan buru-buru ingin selesai. Jangan risau jika butuh waktu 10–15 tahun untuk benar-benar matang dalam ilmu. Karena surga memang tidak dibuka lewat jalan tol. Ia harus ditempuh pelan-pelan, tapi pasti. Dan ilmu di pesantren, adalah salah satu jalanny

banner 336x280