Pelajari kurikulum kitab kuning di kelas Alfiyah Pondok Pesantren Darussalamah Krian. Mulai dari metode pembelajaran, jenis kitab, hingga tirakat santri Alfiyah
DSKRIAN.COM –Pondok Pesantren Darussalamah Krian dikenal sebagai salah satu pesantren Terpadu. Kurikulumnya menggabungkan pendidikan formal berbasis pembelajaran dinas pendidikan serta kurikulum kitab kuning yang mendalam dalam madrasah diniyah.
Salah satu tingkatan paling menantang dan penuh makna adalah kelas Alfiyah. Pada jenjang ini, para santri tidak hanya diuji kemampuan intelektualnya, tetapi juga kesungguhan spiritual dan kedewasaan mentalnya.
Metode Pembelajaran Tradisional: Sorogan, Bandongan, dan Lalaran
Pembelajaran kitab kuning di kelas Alfiyah mengikuti metode klasik yang diwariskan dari ulama-ulama terdahulu, yakni:
-
Bandongan, yaitu metode mendengarkan guru membaca dan menjelaskan kitab kuning secara komprehensif. Santri mencatat dan memahami secara kolektif.
-
Sorogan, yaitu santri secara individu menghadap guru untuk membaca kitab yang sudah dipelajari. Guru akan mengevaluasi bacaan dan pemahaman santri.
-
Lalaran, yakni menghafal bait-bait nadhom melalui pengulangan bersama, terutama pada kitab-kitab berbentuk syair seperti Alfiyah Ibn Malik.
-
Menulis Pegon, sebagai media latihan untuk memaknai kitab kuning dengan tulisan beraksara Arab berbahasa Jawa. Kemampuan ini menjadi bekal penting dalam memahami dan mentadaburi teks-teks klasik.
Empat Kitab Pokok Kelas Alfiyah
-
Alfiyah Ibn Malik
Kitab ini berisi 1002 bait syair tentang kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Disusun oleh Ibnu Malik (w. 672 H), seorang ulama besar dari Andalusia yang dikenal karena kejeniusannya dalam menyusun kaidah bahasa Arab dalam bentuk nadhom. Kitab ini penting karena menjadi landasan utama dalam memahami struktur bahasa Arab yang digunakan dalam kitab-kitab klasik Islam. -
Al-Fathur Rabbani fima Yahtajuhu ilaihil Murid at-Tijani
Sebuah kitab yang memuat penjelasan penting seputar akidah dan ibadah bagi para penempuh jalan tasawuf. Penulisnya adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasanain dari Mesir, ulama Tarekat Tijaniyah. Kitab ini dipelajari untuk memperkuat pemahaman keimanan serta memperdalam dimensi batin dalam beragama. -
Fathul Qorib
Kitab fikih dasar dalam mazhab Syafi’i yang sangat populer di kalangan pesantren. Ditulis oleh Syekh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi, kitab ini menjadi rujukan utama dalam memahami hukum-hukum Islam sehari-hari seperti thaharah, shalat, puasa, zakat, hingga haji. -
Qowaidul I’rob
Kitab ini menjelaskan tentang kaidah i’rab atau perubahan akhir kata dalam bahasa Arab yang dipengaruhi oleh posisi kata dalam kalimat. Disusun oleh Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Marzuqi, kitab ini sangat penting untuk memperdalam kemampuan analisis gramatikal dalam membaca kitab gundul (tanpa harakat).
Tirakat Santri Kelas Alfiyah
Belajar di kelas Alfiyah tidak hanya menuntut kecerdasan, tetapi juga kesabaran, keikhlasan, dan tirakat. Di Pesantren Darussalamah Krian, santri kelas Alfiyah diwajibkan menjalani tahun penuh pembelajaran tanpa ikut liburan, termasuk pada momen hari raya dan maulid nabi. Selama waktu tersebut, mereka tetap tinggal di pondok untuk mendalami kitab-kitab, memperkuat hafalan, dan membiasakan diri dalam kehidupan zuhud dan istikamah.
Tirakat ini bukan sekadar pengorbanan, tetapi merupakan upaya pembentukan karakter santri agar menjadi generasi alim yang tangguh secara intelektual dan spiritual. Mereka belajar untuk tidak bergantung pada kenyamanan duniawi dan mulai melatih diri menjadi ulama yang berdedikasi.
Melestarikan Tradisi Ilmu Para Ulama
Kurikulum kelas Alfiyah di Pesantren Darussalamah Krian bukanlah proses instan. Di balik bait-bait yang dihafal dan kitab yang ditelaah, tersimpan perjuangan lahir batin yang melatih para santri menjadi manusia paripurna. Di sinilah nilai pendidikan pesantren sejati hadir: membentuk pribadi berilmu, berakhlak, dan siap menjadi pewaris tradisi ulama.










