Kalau kita ngomongin sejarah, nggak melulu soal raja-raja besar atau perang kolosal. Kadang, cerita yang paling menyentuh itu justru datang dari desa kecil, dari orang-orang biasa yang niat dan tekadnya luar biasa. Nah, di Desa Menunggal, Kabupaten Gresik, ada cerita semacam itu. Cerita tentang bagaimana obor ajaran Tarekat Tijaniyah bisa menyala terang, dinyalakan oleh dua orang hebat: seorang bapak bernama Abah Abdul Mukhid, dan putranya, Ustadz Abdul Khaliq.
Redaksi merangkum kisah ini dari jurnal skripsi mahasiswa unesa tentang Perkembangan Tarekat Tijaniyah di Desa Menunggal Gresik. Adapun Link jurnal: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/49390/41044
Kisah mereka ini bukan soal adu sakti, tapi soal kerja bareng antara bapak dan anak. Sang bapak jadi pembuka jalan yang tatag (tangguh), dan sang anak jadi guru yang arif. Lewat tangan mereka berdua, ajaran tarekat ini bisa ditanam, dirawat, sampai akhirnya tumbuh subur dan kuat menghadapi segala macam cobaan. Yuk, kita simak ceritanya.
Semua Bermula dari Niat Sang Anak
Jauh sebelum tahun 1983, Abah Abdul Mukhid ini sudah jadi orang yang disegani di Desa Menunggal. Beliau guru ngaji di mushola, tempat warga bertanya soal agama. Tapi, jalan beliau kenal sama dunia tarekat itu unik. Bukan beliau yang cari, tapi justru jalan itu terbuka lewat anaknya, Abdul Khaliq, yang waktu itu masih muda dan semangat-semangatnya cari ilmu.
Saking hausnya sama ilmu agama, Ustadz Abdul Khaliq muda ini berangkat ke Krian, Sidoarjo, buat ngangsu kawruh (menimba ilmu) ke K.H. Mustafid bin Munawir. Melihat semangat anaknya, Abah Mukhid nggak cuma kasih doa restu, hatinya ikut tergerak. Tiap kali ngeterke atau niliki (mengantar atau menjenguk) anaknya, beliau ikut nimbrung di majelis wirid K.H. Mustafid. Dari situlah, hatinya mulai sreg. Ajaran untuk mendekatkan diri pada Gusti Allah ini terasa begitu menancap di hati.
Rasa sreg ini bukan cuma sesaat. Abah Mukhid menunjukkan tekad yang ora umum (luar biasa). Biarpun jarak Menunggal-Krian itu jauh, beliau rela mlaku (berjalan kaki), nggak kenal capek, demi bisa ikut kegiatan tarekat. Sejak saat itu, beliau bukan lagi sekadar bapak yang mendukung anaknya, tapi sudah jadi murid yang butuh bimbingan. Semangat inilah yang jadi cikal bakal Tarekat Tijaniyah di desanya. Dan ilmu itu nggak beliau simpan sendiri. Dengan semangatnya, beliau mulai ngajak-ngajak saudara dan tetangganya buat ikut pengajian di Krian.
Kolaborasi Bapak dan Anak
Suksesnya Tarekat Tijaniyah di Menunggal ini kuncinya ada di kerjasama apik antara Abah Mukhid dan Ustadz Abdul Khaliq. Peran mereka beda, tapi saling melengkapi, kayak kopi dan gulanya.
Abah Mukhid itu ibarat sing mbabat alas (yang membuka hutan). Beliau sudah dikenal baik sama warga, jadi gampang buat masuk dan mengenalkan ajaran tarekat ini. Orang-orang lihat sendiri gimana gigih dan tulusnya Abah Mukhid, jadi mereka percaya dan mau ikut. Beliau ini pembuka jalan sejati.
Sementara itu, Ustadz Abdul Khaliq adalah sing nandur bibit lan njogo sanad (yang menanam benih dan menjaga keilmuan). Setelah mondok delapan tahun di Sumbersari Pare, Kediri, ilmunya sudah matang. Tugasnya adalah memberi penjelasan yang gamblang, memastikan ajarannya lurus, dan membina jamaah biar nggak salah jalan. Kalau Abah Mukhid itu hatinya, Ustadz Khaliq ini otaknya.
Kerja bareng ini jadi model dakwah yang pas banget: Abah Mukhid mengumpulkan orang dengan cara yang merakyat, Ustadz Khaliq membina mereka dengan ilmu yang kuat. Tanpa Abah Mukhid, mungkin nggak akan ada jamaah. Tapi tanpa Ustadz Khaliq, jamaah itu bisa jadi goyah kalau kena cobaan.
Cobaan Datang: Adu Sakti Lawan Adu Balap Lari
Namanya juga rintisan, pasti ada cobaannya. Sekitar tahun 1989, waktu jamaah mulai ramai, kabar ini terdengar sampai ke desa tetangga, Sooko. Dari sana, datanglah tantangan. Ada kelompok yang ngajarin ilmu kebal dan kesaktian, coba merekrut pengikut Tijaniyah. Modusnya, mereka menyebar isu kalau bakal ada perang, jadi semua orang butuh “pegangan” biar selamat.
Godaan ini lumayan berat. Beberapa jamaah, termasuk Abah Mukhid sendiri, sempat goyah dan ikut-ikutan. Ini momen genting, bisa-bisa jamaah jadi pecah. Kabar ini sampai ke telinga Ustadz Khaliq di pondok. Gurunya, K.H. Mustafid, langsung menugasinya pulang untuk “memberi tahu” sang ayah.
Di sinilah kecerdasan Ustadz Khaliq diuji. Beliau nggak langsung marah-marah atau debat kusir pakai dalil yang bisa bikin bapaknya tersinggung. Caranya halus tapi mak jleb. Beliau tidak mendebat, tapi malah menantang bapaknya lomba lari di malam hari. Logikanya gampang: kalau ilmu saktinya manjur, harusnya si bapak yang sudah sepuh bisa dong mengalahkan anaknya yang masih muda.
Hasilnya? Tentu saja Abah Mukhid kalah. Dan dalam kekalahannya itu, beliau sadar. Bukan karena kalah debat, tapi karena kenyataan yang nggak bisa dibantah. Beliau sadar usianya tak lagi muda, dan dari situ beliau merenung kembali. Cara Ustadz Khaliq ini berhasil karena:
- Nguwongke Bapak’e: Beliau tetap hormat, nggak ada penghakiman.
- Logikanya Gampang Diterima: Nggak perlu mikir rumit, langsung kena.
- Pakai Kearifan Lokal: Cara menyelesaikan masalah yang adem, nggak bikin sakit hati, tapi bikin sadar diri.
Kejadian ini akhirnya bikin jamaah kembali solid dan makin mengukuhkan Ustadz Khaliq sebagai pemimpin yang tidak cuma berilmu, tapi juga bijaksana.
Dari Krian hingga Punya Zawiyah
Setelah Ustadz Abdul Khaliq lulus mondok tahun 1993 dan cobaan dari Sooko lewat, perjuangan mereka masuk babak baru. Gerakan yang tadinya mengikuti wirid di ponpes Darussalamah Krian, sekarang butuh pusat kegiatan sendiri. Atas saran K.H. Mustafid, akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah zawiyah—tempat untuk kumpul dan dzikir bareng—di Desa Menunggal.
Tahun 1996, “markas” itu berdiri. Awalnya cuma rumah bambu sederhana milik ibu Ustadz Khaliq. Tapi dari sinilah perubahan besar dimulai.
- Sebelum 1996: Perjuangan masih bersifat ajak-ajakan, dipimpin oleh Abah Mukhid. Fokusnya mengajak orang ikut perjalanan spiritual.
- Setelah 1996: Perjuangan jadi lebih tertata, dipimpin oleh Ustadz Khaliq. Fokusnya membangun “rumah” atau jamaah yang berilmu.
Zawiyah itu nggak cuma jadi tempat wirid. Ia juga jadi tempat tinggal Ustadz Khaliq sekaligus pusat pendidikan lewat Madrasah Diniyah Darussalamah. Abah Mukhid, sang pembabat alas, kini bisa tersenyum melihat hasil kerja kerasnya menjadi sebuah lembaga yang kokoh. Perannya bergeser menjadi sesepuh yang dihormati, sementara Ustadz Khaliq memegang kemudi sebagai pemimpin. Api yang dulu cuma percikan kecil, sekarang sudah punya tungku yang menjaganya agar terus menyala dan menghangatkan seisi desa.
Kisah Abah Mukhid dan Ustadz Abdul Khaliq ini jadi bukti nyata bahwa perjuangan besar itu lahir dari niat tulus, dikuatkan oleh kerjasama bapak-anak, diuji oleh zaman, dan akhirnya meninggalkan warisan yang terus hidup. Mereka mengajarkan kita bahwa kepemimpinan hebat itu tak selalu harus gemerlap; ia bisa hadir dari langkah kaki seorang bapak yang tak kenal lelah dan kearifan seorang anak yang rendah hati.







