Ziarah Kubur: Tradisi Spiritual yang Menyatu dalam Kehidupan Pesantren
Ziarah kubur merupakan salah satu amalan yang telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak masa Rasulullah ﷺ. Bukan hanya sekadar mengunjungi makam orang yang telah wafat, ziarah kubur juga menjadi sarana introspeksi diri, memperkuat kesadaran akan akhirat, dan menumbuhkan spiritualitas dalam hati setiap Muslim. Tradisi ini hidup dan terjaga di lingkungan pesantren, termasuk di Pondok Pesantren Darussalamah Krian.
Di pesantren ini, ziarah kubur telah menjadi pembiasaan rutin para santri, dilakukan setiap hari Jumat pagi setelah shalat Subuh. Lokasi ziarah adalah makam Syaikhina KH. Mustafid Munawwir, pendiri pesantren yang dihormati dan dicintai oleh para santri dan masyarakat. Sebelumnya, sebelum beliau wafat, ziarah rutin dilakukan ke makam putri beliau, Ning Hj. Mustafidah, yang wafat pada tahun 2015. Tradisi ini bukan hanya menunjukkan sikap birrul walidain dan penghormatan kepada orang-orang shalih, tetapi juga menjadi wasilah pendidikan adab dan ruhiyah bagi para santri.
Praktek di Zaman Nabi Saw
Ziarah kubur bukan sekadar tradisi, namun memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Pada awalnya, Rasulullah ﷺ melarang umat Islam melakukan ziarah kubur karena khawatir mereka akan kembali pada praktik jahiliyah. Namun kemudian, beliau membolehkannya, bahkan menganjurkannya untuk mengingatkan manusia akan kematian dan kehidupan akhirat.
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ”
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang ziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan pada akhirat.”
(HR. Muslim no. 977)
Hadis ini menunjukkan bahwa ziarah kubur adalah sunnah yang sangat dianjurkan, selama dilakukan dengan niat yang lurus dan tidak menyimpang dari ajaran syariat.
Adab Ziarah Kubur
Dalam Islam, ziarah kubur memiliki adab-adab tertentu yang perlu diperhatikan, di antaranya:
-
Niat ikhlas karena Allah SWT semata-mata untuk mengambil pelajaran dan mendoakan ahli kubur.
-
Mengucapkan salam kepada ahli kubur, seperti ucapan:
“Assalamu ‘alaikum ya ahlad-diyar minal mu’minin wal muslimin…” -
Mendoakan ampunan untuk mereka, memohonkan rahmat dan ridha Allah atas mereka.
-
Membaca Al-Qur’an, lalu menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur. Mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah membolehkan ini sebagai bentuk bakti dan kasih sayang kepada mereka yang telah mendahului kita.
Pembentukan Karakter dan Ruhaniyah Santri
Hikmah Ziarah Kubur
Ziarah kubur memiliki banyak hikmah yang mendalam bagi pembentukan karakter dan ruhaniyah seorang Muslim, di antaranya:
-
Mengingatkan manusia akan kematian dan kefanaan dunia.
-
Menumbuhkan keinginan untuk bertaubat dan memperbanyak amal shalih.
-
Menghormati dan meneladani orang-orang shalih, terutama para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu.
-
Menanamkan adab dan kedekatan spiritual dalam kehidupan santri secara berkelanjutan.
Tradisi Ziarah Santri Darussalamah: Pendidikan Ruhani yang Menyatu
Di lingkungan Pondok Pesantren Darussalamah Krian, ziarah kubur tidak hanya sebagai kegiatan insidental, tetapi merupakan program pembiasaan ruhani yang terjadwal secara rutin. Setiap hari Jumat selepas Subuh, para santri bersama para asatidzah berjalan menuju makam Syaikhina KH. Mustafid Munawwir, pendiri pesantren, yang merupakan sosok guru mulia dan penuh kharisma.
Sebelum wafatnya beliau, kegiatan ziarah dilakukan di makam putri beliau, Ning Hj. Mustafidah, seorang wanita shalihah yang juga menjadi teladan dalam keteguhan dan kesetiaan terhadap perjuangan ayahandanya.
Kegiatan ziarah ini dilakukan dengan tertib dan khidmat. Para santri duduk berjamaah di sekitar pusara, membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, lalu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz.
Rangkaian Bacaan dalam Ziarah
Tradisi ziarah di Darussalamah disertai dengan pembacaan empat surat Al-Qur’an yang dikenal memiliki banyak keutamaan:
-
Surat Yasin
“Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya karena mengharap ridha Allah kecuali akan diampuni dosanya.”
(HR. At-Tirmidzi) -
Surat Ar-Rahman
Dikenal dengan julukan “Pengantin Al-Qur’an” karena keindahan lafaz dan maknanya yang menyentuh jiwa, serta pengulangan ayat “Fabi ayyi aalaai Rabbikumaa tukadzdzibaan” yang menggugah kesadaran akan nikmat Allah. -
Surat Al-Waqi’ah
“Barang siapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan terkena kemiskinan selamanya.”
(HR. Ibn Asakir) -
Surat Al-Mulk
“Sesungguhnya surat Al-Mulk adalah surat yang mencegah dan menyelamatkan dari azab kubur.”
(HR. At-Tirmidzi)
Bacaan ini ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan untuk ahli kubur serta kebaikan dan keberkahan untuk para santri dan seluruh umat Islam.
Penutup: Tradisi yang Mendidik Hati
Ziarah kubur bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan media pendidikan ruhani yang mendalam. Melalui tradisi ini, santri dilatih untuk menjadi pribadi yang sadar akan akhirat, mencintai ulama, menjaga adab, dan meneladani orang-orang shalih. Di tengah era yang serba cepat dan sering kali melalaikan, tradisi ziarah yang dijaga di Pondok Pesantren Darussalamah menjadi penyejuk jiwa dan penguat spiritualitas para pencari ilmu.
Semoga tradisi ini terus terjaga dan menjadi wasilah turunnya keberkahan bagi pesantren, santri, dan seluruh umat.










