Muhammad Raditya berdiri kaku di depan gapura Pondok Pesantren Katerungan. Ransel hitam tergantung malas di pundaknya, sementara jemarinya masih menggenggam ponsel yang kini tak berguna. Sinyal hilang sejak tadi.
“Disingkirke teko omah kayak gini, apa salahku?” gumamnya lirih.
Anak tunggal pasangan pengusaha sukses itu terbiasa hidup mewah. Bangun siang, makan tinggal pilih, handphone tak pernah lepas dari tangan. Soal ibadah? Paling-paling sholat kalau diingatkan ibu. Itupun cepat-cepat.
Hari itu, Raditya resmi nyantri di Katerungan, pesantren sederhana di pinggiran desa. Ayahnya sudah angkat tangan. Ibunya masih menaruh harap, berharap pondok bisa “menjinakkan” anaknya.
“Mas Radit, HP-nya diserahkan dulu ya… nanti disimpan di kantor pengasuh,” ucap seorang santri senior yang menyambutnya ramah.
Raditya menarik napas. “Lha terus kalo mau kabar-kabaran sama rumah gimana?”
“Nanti bisa pakai HP kantor, Mas. InsyaAllah aman. Di sini memang aturannya begitu.”
Raditya mengangguk pelan. Dalam hati, dia bersumpah, paling cuma tahan seminggu di sini, habis itu kabur. Hidup di rumah jauh lebih enak.
*
Hari-hari pertama Raditya di pondok penuh derita baginya. Bangun jam empat subuh, antre kamar mandi, wudhu dengan air sumur yang dingin minta ampun, lalu sholat berjamaah. Siangnya mengaji, hafalan, sore bersih-bersih. Semua serba disiplin.
Ia sering pura-pura sakit. Pernah sembunyi di kamar saat teman-teman ngaji. Puncaknya, malam kelima, ia kedapatan bolos Isya’ dan ketahuan main game pakai HP temannya.
Malam itu, ia dipanggil ke ruang pengasuh.
“Assalamu’alaikum, Radit. Monggo mlebet,” sapa Ustadz Fajar, pengasuh asrama yang dikenal kalem tapi tegas.
Raditya masuk dengan wajah masam. Dalam hatinya, ia menanti hukuman atau paling tidak dimarahi.
Tapi tak terjadi.
Ustadz Fajar malah menyodorkan selembar kertas.
“Niki surat dari ibumu. Tadi beliau WA saya, nitip dibacakan njenengan.”
Raditya ragu-ragu membukanya. Tapi begitu melihat tulisan tangan ibunya yang halus, hatinya langsung mencelos:
“Nak, Ibu tidak membuangmu. Justru di tempat ini, Ibu berharap kamu bisa belajar jadi lelaki sejati. Jadi anak sholeh, kuat, mandiri. Ibu yakin, kamu bisa. Jangan buat Ibu patah harap.”
Tanpa terasa, air matanya jatuh. Ia menunduk. Kata-kata ibu itu lebih tajam dari hukuman apa pun.
“Kalau kamu siap berubah, kami semua di sini siap bantu. Tapi ya harus kamu sendiri yang niat,” ucap Ustadz Fajar pelan, seperti bicara pada anak sendiri.
Raditya tak mampu menjawab. Ia cuma mengangguk pelan, lalu pamit keluar dengan dada sesak.
*
Esok paginya, Raditya bangun lebih awal dari biasanya. Ia ikut sholat subuh tanpa dibangunkan. Santri lain heran, tapi diam saja. Mereka masih ragu.
Raditya mulai mencuci bajunya sendiri. Saat piket bersih-bersih, ia tak lagi menghindar. Bahkan ia bertanya kepada senior, “Mas, nyapu halaman masjid yang bener gimana ya? Soale anginnya kenceng terus.”
Ia juga mulai menghafal surat pendek, sedikit demi sedikit. Malam-malamnya ia isi dengan membaca Yasin, kadang sambil menahan air mata. Banyak penyesalan menumpuk dalam hatinya.
Teman-temannya yang dulu dijauhi mulai membuka diri. Mereka melihat kesungguhan.
*
Suatu malam, saat sedang ngobrol selepas isya, seorang teman sekamarnya nyeletuk:
“Kamu beneran berubah, Dit?”
Raditya tersenyum kecil. “Dulu aku pikir pondok itu kayak penjara. Tapi sekarang malah tenang. Nggak ada game, nggak ada marah-marah, tapi ada rasa adem.”
Temannya mengangguk. “Lha iya. Meskipun sederhana, tapi rasanya koyok nang omah.”
*
Dua bulan kemudian, pondok mengadakan hari silaturahmi wali santri. Para orang tua datang dari berbagai daerah. Raditya berdiri paling depan menyambut. Baju koko putih, sarung bersih, sandal rapi.
Saat ibunya turun dari mobil, matanya langsung membesar. Ia nyaris tak percaya.
“Radit?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.
“Iya, Bu…” jawab Raditya, pelan.
Seketika pelukannya mendarat erat di tubuh Raditya. Tangis ibunya pecah. “Alhamdulillah… alhamdulillah… anak Ibu wis gede beneran…”
Ayahnya menyusul, tak banyak bicara, tapi memeluk Raditya dan menepuk punggungnya.
“Kamu sekarang kayak bukan Radit yang dulu,” katanya singkat. Tapi nada suaranya… bangga.
*
Sejak itu, Raditya makin mantap menjalani hidup sebagai santri. Ia jadi pengurus baru di asrama, sering memberi motivasi santri baru yang menangis minta pulang.
Suatu hari, seorang santri kecil datang ke kamarnya. Wajahnya mirip dirinya dulu—cemberut, malas, dan sinis.
“Kamu males ngaji ya?” tanya Raditya pelan.
Santri kecil itu hanya mengangguk.
“Kamu kangen rumah?”
Anggukan lagi.
Raditya tersenyum, duduk di sebelahnya. “Dulu aku juga begitu. Tapi tahu nggak? Justru di sinilah aku nemu rumah yang sebenarnya.”
***
Raditya kini bukan lagi bocah manja yang hidup dalam dunia maya. Ia tumbuh jadi remaja yang santun, mandiri, dan rajin beribadah. Katerungan bukan sekadar pesantren, tapi titik balik hidupnya. Tempat di mana hati yang keras bisa luluh, dan jiwa yang goyah bisa kembali teguh.
Dan semua perubahan itu… dimulai dari satu niat: mau berubah.










