KH Nurul Huda Bongkar Rahasia Kehebatan Ayahnya: Ngaji 12 Kitab Sehari

oleh -1399 Dilihat
banner 468x60

SIDOARJO, dskrian.com –  Dalam peringatan haul akbar 100 tahun Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada Sabtu (5/7), KH. Nurul Huda Djazuli berdiri dengan wajah tenang namun penuh haru. Di hadapan ribuan santri dan tamu yang hadir, beliau tidak berbicara tentang bangunan, angka, atau prestasi duniawi. Yang beliau bicarakan adalah cinta seorang anak kepada ayahnya.

Menariknya, salah satu sosok penting dalam dunia pesantren saat ini, Ibu Nyai Hj. Machsunah Mustafid—Mudirul Aam Pondok Pesantren Darussalamah Krian—adalah salah satu santri beliau saat mondok di Al-Falah Ploso. Beliau adalah saksi hidup bagaimana keteladanan dan keistiqamahan KH. Nurul Huda telah menanamkan nilai ilmu, adab, dan keikhlasan yang membekas hingga kini.

banner 336x280

“Bapak kami, KH. Jazuli Usman, bukan orang biasa,” ucap beliau lirih. “Beliau tampak sederhana, mungkin lugu di mata orang luar. Tapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan lautan ilmu, keikhlasan, dan kekuatan ruhiyah yang sulit kita tandingi.”

Beliau melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan, “Apa yang diwariskan oleh beliau bukan emas atau kemegahan, tapi semangat untuk terus ngaji. Setiap hari, tanpa henti, ngaji. Itulah yang menjadi nadi Pondok Al-Falah sampai sekarang.”

Saat itu, suasana di majelis Ploso terasa hangat. KH. Nurul Huda Djazuli melanjutkan ceramahnya, tidak seperti pidato formal, tapi lebih seperti seorang ayah yang sedang membuka hati.

“Orang-orang kadang terlalu terpesona sama gedung megah pesantren,” beliau berkata sambil tersenyum tipis. “Padahal, bukan itu yang jadi ruh pesantren. Gedung itu hanya kulit. Yang membuat pondok itu hidup adalah ngajinya.”

Beliau mengingat bagaimana sang ayah, KH. Jazuli Usman, menjaga tradisi ngaji setiap hari. Bukan hanya satu atau dua kitab. Tapi lebih dari dua belas kitab dalam sehari. “Bayangkan, di usia sepuh, beliau masih kuat ngaji terus-menerus, nggak pernah lelah, nggak pernah mengeluh. Kita yang muda ini kadang baru satu kitab saja sudah ngelus dada,” ucap beliau, disambut tawa kecil penuh kagum dari para hadirin.

Beliau lalu menegaskan, “Kalau cuma bisa baca kitab, banyak yang bisa. Tapi menjaga irama ngaji setiap hari, istiqamah, itu yang berat. Dan beliau mampu menjalaninya.”

Suasana majelis mendadak lebih hening ketika beliau mulai berbicara tentang dunia.

“Bapak kami nggak pernah senang kalau anak-anaknya pamer kekayaan. Dunia itu bukan sesuatu yang membanggakan. Dunia itu hanya bayangan. Ad-dunya dhillun zail, kata beliau. Bayangan yang sebentar lagi akan hilang.”

KH. Nurul Huda berkisah bagaimana sang ayah pernah menegur anaknya yang terlihat senang dipuji atau mulai dikenal publik. “Beliau langsung marah. Beliau bilang, ‘Wong seneng dunia itu seperti anjing yang mengejar bangkai.’” Semua yang mendengar diam. Kalimatnya tajam, tapi sarat kasih sayang.

Lalu beliau menyejukkan hati para pendengar.

“Apakah berarti kita nggak boleh kerja? Boleh. Bahkan harus. Tapi hati kita jangan sampai tertambat pada dunia. Kerja itu jalan, bukan tujuan.”

“Jualan pecel? Monggo. Jadi pegawai? Silakan. Tapi jangan sampai itu semua menjauhkan kita dari Allah. Jangan sampai kerja bikin hati kita jadi keras dan lupa ngaji.”

Beliau menutup bagian itu dengan kalimat yang lembut, “Rezeki itu datang bukan karena kamu ngoyo. Tapi karena kamu ridha, kamu pasrah, kamu tenang. Justru orang yang tidak mengejar dunia secara berlebihan itu seringkali malah diberi dunia.”

Ceramah itu bukan sekadar nasihat. Tapi cermin dari kehidupan seorang ulama yang menghidupi ilmunya. Yang menanamkan warisan bukan dalam bentuk harta, tapi dalam bentuk karakter, adab, dan istiqamah.

Karena begitulah cara Kiai Nurul Huda mengajar: dengan cinta yang dalam, kata-kata yang jujur, dan teladan yang nyata.

Dan mungkin, kalau suatu saat hidup terasa sumpek, hati terasa sesak, dunia terasa mengejar kita dari segala penjuru—maka itu isyarat untuk pulang sejenak. Buka kembali kitab yang berdebu. Duduk diam, dan dengarkan kembali suara para kiai: suara yang tidak keras, tapi menggugah jiwa.

banner 336x280